Pernah bertanya-tanya kenapa kukang bergerak selambat itu? Bukan karena malas, melainkan karena faktor genetik yang sudah berevolusi selama puluhan juta tahun. Simak fakta-fakta ilmiahnya berikut ini.

Fakta 1: Kukang Punya Metabolisme Paling Lambat di Dunia Mamalia

Sebuah studi yang dipublikasikan di BMC Biology pada 22 Juni 2026 mengungkap bahwa kukang memiliki metabolisme paling lambat dari semua mamalia di Bumi. Peneliti menganalisis kukang berjari dua (Choloepus didactylus) dan membandingkannya dengan puluhan mamalia lain, termasuk trenggiling dan armadilo.

Fakta 2: "Gen Loncat" Jadi Kunci Utama

Peneliti menemukan bahwa transposon atau "gen loncat" — urutan DNA yang bisa berpindah atau menyalin diri ke posisi baru dalam genom — memainkan peran kunci dalam evolusi kukang. Aktivitas gen loncat ini terlacak hingga lebih dari 30 juta tahun ke belakang dalam garis evolusi kukang.

Fakta 3: Mitokondria Kukang Bekerja dalam Mode Hemat Energi

Kukang memiliki kebutuhan energi sel yang sangat rendah. Kondisi ini memungkinkan terjadinya akumulasi mutasi dalam genom mitokondria mereka yang juga berfungsi lambat. Meski begitu, kukang tetap sehat dan bisa bertahan hidup dengan baik.

Fakta 4: Kukang Punya "Sistem Cadangan" Genetik

Peneliti menduga gen loncat berperan sebagai mekanisme kompensasi. Gen-gen ini menciptakan jalur genetik alternatif agar tubuh kukang tetap bisa berfungsi meski mitokondrianya bekerja dalam mode energi rendah. Inilah yang disebut sebagai "sistem cadangan" genetik kukang.

Fakta 5: Perubahan DNA yang Aman bagi Kukang

Pada manusia, perubahan DNA akibat gen loncat bisa memicu kanker. Namun kukang memiliki toleransi tinggi terhadap mekanisme ini, membuat mereka semakin menarik untuk diteliti karena mungkin menyimpan solusi biologis yang tidak dimiliki manusia.

Fakta 6: Bisa Bantu Riset Penyakit Manusia

Temuan ini berpotensi penting untuk riset medis karena banyak penyakit manusia berkaitan dengan gangguan produksi energi sel dan fungsi mitokondria, termasuk diabetes, gangguan penuaan, neurodegenerasi, dan Parkinson. Memahami bagaimana kukang bertahan dengan metabolisme rendah bisa membuka wawasan baru tentang efisiensi energi sel.

Kesimpulan

Kelambatan kukang ternyata bukan sekadar kebiasaan, melainkan hasil evolusi genetik yang kompleks selama puluhan juta tahun. Studi ini membuktikan bahwa hewan "paling lambat" di dunia justru menyimpan rahasia biologis yang bisa membantu riset kesehatan manusia di masa depan.