Bakteri Tanah Ini Bikin Akar Tanaman 30% Lebih Kuat di Lahan Asin

Penumpukan garam di lahan pertanian jadi ancaman serius buat produksi pangan global.

28 Juni 2026, tim peneliti dari University of East Anglia (UEA) mengumumkan temuan yang bisa jadi game changer: bakteri tanah alami yang terbukti membantu tanaman bertahan di lahan asin.

Bakteri Pseudomonad dan Rahasia Lignin

Bakteri yang dimaksud adalah pseudomonad, kelompok mikroba yang secara alami hidup di tanah.

Tim peneliti menemukan bahwa bakteri ini berkumpul di sekitar akar tanaman saat terkena tekanan garam. Alih-alih membantu tanaman mengeluarkan garam (seperti yang selama ini dipercaya), pseudomonad justru merangsang produksi lignin.

Lignin adalah senyawa penguat dinding sel tanaman yang bikin akar lebih kuat. Hasilnya? Kandungan lignin pada akar tanaman yang terpapar bakteri meningkat lebih dari 30% saat berada di lahan asin.

Diuji pada 4 Jenis Tanaman

Efek ini gak cuma terjadi pada satu jenis tanaman. Para peneliti menguji respons pseudomonad pada jagung, tomat, rapeseed (kanola), dan kedelai.

Semuanya menunjukkan mekanisme perlindungan yang sama. Dalam uji coba rumah kaca dan lapangan, tanaman kedelai yang diberi bakteri pseudomonad menunjukkan sistem akar lebih kuat, perkembangan lebih baik, dan hasil panen lebih tinggi.

Penjelasan Ilmuwan

Prof. Jonathan Todd, peneliti utama dari UEA, menjelaskan:

"Penumpukan garam di lahan pertanian adalah masalah besar yang terus memburuk — dipicu perubahan iklim, irigasi, dan naiknya permukaan air laut. Garam menghambat pertumbuhan tanaman, merusak akar, dan mengancam pasokan pangan global."

"Yang paling mengejutkan adalah cara bakteri membantu tanaman bertahan. Selama puluhan tahun, ilmuwan mengira tanaman bertahan di lahan asin dengan mengontrol kadar sodium. Tapi kami justru menemukan bakteri merangsang produksi lignin, bukan mengelola garam."

Kenapa Ini Penting

Lahan asin adalah masalah yang makin besar di Indonesia. Irigasi terus-menerus dan intrusi air laut bikin jutaan hektar lahan pertanian jadi kurang produktif.

Solusi berbasis mikroba seperti pseudomonad bisa jadi alternatif yang murah dan berkelanjutan. Tanpa bahan kimia, cukup pakai bakteri alami yang sudah ada di tanah. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Science Advances.