- Survei Konsumen BI Mei 2026: porsi tabungan rumah tangga turun dari 18,2% ke 17,5%, cicilan naik ke 10,2%
- Tabungan rupiah di perbankan turun Rp10,4 triliun, tapi tabungan valas melonjak Rp14,8 triliun
- Kelompok berpenghasilan tinggi pun terdampak: tabungan kelompok di atas Rp5 juta turun dari 19,2% ke 17,5%
Gaji habis buat cicilan? Data terbaru Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi kekhawatiran itu. Survei Konsumen BI periode Mei 2026 menunjukkan porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan turun, sementara konsumsi dan cicilan justru naik. Ini bukan sekadar data — ini sinyal bahwa daya beli masyarakat kelas menengah mulai tertekan.
Data Terbaru BI
Proporsi pendapatan untuk cicilan/utang naik dari 9,7% (April 2026) menjadi 10,2% di Mei 2026. Konsumsi juga naik tipis dari 72,1% ke 72,3%. Akibatnya, porsi tabungan turun dari 18,2% ke 17,5%.
Peneliti CNBC Indonesia Research, Elvan Widyatama, menggarisbawahi bahwa penurunan ini terjadi hampir di semua kelompok pengeluaran. Kelompok dengan penghasilan Rp3,1–Rp4 juta turun dari 18,3% ke 16,9%. Bahkan kelompok di atas Rp5 juta — yang biasanya punya ruang tabungan lebih besar — juga turun dari 19,2% ke 17,5%.
Tabungan Rupiah Terkoreksi
Data laporan Uang Beredar BI mempertegas tren ini. Tabungan rupiah di perbankan turun Rp10,4 triliun dalam sebulan, dari Rp2.914,6 triliun (April) menjadi Rp2.904,2 triliun (Mei 2026).
Penurunan ini terjadi karena konsumsi masih tinggi dan beban cicilan masyarakat meningkat. Dana yang tersisa untuk ditabung semakin terbatas.
Tabungan Valas Justru Melonjak
Uniknya, tabungan dalam valuta asing bergerak sebaliknya. Tabungan valas naik Rp14,8 triliun menjadi Rp260,9 triliun. Pertumbuhan tahunannya mencapai 29,9% yoy — jauh di atas tabungan rupiah yang cuma tumbuh 7,3% yoy.
Secara year-to-date, tabungan valas sudah bertambah Rp51,8 triliun sejak Januari 2026. Lonjakan ini terkait tekanan nilai tukar rupiah yang mendorong masyarakat dan pelaku usaha menyimpan dana dalam mata uang asing.
Kenapa Ini Penting?
Dua hal bergerak berlawanan: ruang menabung dalam rupiah menyempit, tapi simpanan valas melonjak. Artinya, masyarakat kelas menengah ke bawah yang paling tertekan — mereka tidak punya akses atau kemampuan menyimpan valas. Sementara kelompok yang bisa menyimpan valas justru meningkatkan simpanannya. Ketimpangan ini perlu diwaspadai.
BI perlu mencermati tren ini. Jika porsi cicilan terus naik sementara tabungan terus turun, daya beli masyarakat bisa semakin tertekan. Data ini jadi pengingat pentingnya literasi keuangan dan pengelolaan utang yang bijak di tengah tekanan ekonomi.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa penyebab utama porsi tabungan masyarakat turun?
Berdasarkan Survei Konsumen BI Mei 2026, penyebab utamanya adalah konsumsi yang masih tinggi (72,3% dari pendapatan) dan beban cicilan/utang yang naik ke 10,2%. Akibatnya, porsi tabungan turun ke 17,5%.
Berapa besar penurunan tabungan rupiah di perbankan?
Tabungan rupiah di perbankan turun Rp10,4 triliun dalam sebulan, dari Rp2.914,6 triliun (April 2026) menjadi Rp2.904,2 triliun (Mei 2026), menurut data laporan Uang Beredar BI.
Kenapa tabungan valas justru naik signifikan?
Tabungan valas naik Rp14,8 triliun menjadi Rp260,9 triliun, tumbuh 29,9% yoy. Lonjakan ini didorong oleh tekanan nilai tukar rupiah yang mendorong masyarakat dan pelaku usaha mengalihkan simpanan ke mata uang asing.
