Bulan purnama Juni atau Strawberry Moon akan menghiasi langit Indonesia pada 29-30 Juni 2026. Fenomena ini 100% sama secara astronomi dengan purnama biasa — tapi viral karena namanya yang unik. Banyak penikmat langit malam sudah menyiapkan kamera untuk mengabadikan momen ini.

Bukan Ilmiah, Tapi Folklor Amerika

Menurut Thomas Djamaluddin, Pakar Astronomi BRIN, Strawberry Moon adalah purnama pada bulan Juni. Penamaan ini berasal dari tradisi suku asli Amerika Utara saat stroberi liar berbuah pada Juni.

"Kosakata Strawberry Moon tidak memiliki latar belakang ilmiah astronomi, namun lebih kepada folklor Amerika Serikat," jelas Marufin Sudibyo, Astronom Amatir Indonesia.

Secara astronomi, Strawberry Moon tidak berbeda dengan 12-13 purnama lain dalam setahun. Tidak ada perubahan warna, ukuran, atau efek khusus.

Nama Lain di Berbagai Negara

Setidaknya 3 budaya punya sebutan unik untuk purnama Juni:

  • Rose Moon — Skotlandia (mekarnya mawar liar)
  • Flower Moon atau Planting Moon — Inggris (musim berbunga)
  • Strawberry Moon — Amerika Utara (panen stroberi)

Jadwal Puncak 29-30 Juni 2026

Zona Waktu Puncak Oposisi Visibilitas
WIB 30 Juni pukul 05.58 Hanya Sumatera
WITA 30 Juni pukul 06.58 Tidak terlihat
WIT 30 Juni pukul 07.58 Tidak terlihat

Waktu terbaik: maghrib 29 Juni hingga fajar 30 Juni di lokasi dengan langit cerah. Cukup dengan mata telanjang.

Kenapa Ini Penting?

Unggahan Instagram soal Strawberry Moon ramai dibagikan karena banyak yang mengira bulan akan berubah warna merah muda. Faktanya: tidak. Istilah Strawberry Moon murni tradisi budaya, bukan ilmu astronomi.

Ini artinya masyarakat bisa menikmati fenomena langit dengan ekspektasi yang realistis — bukan hoax visual. Dampaknya: edukasi astronomi sederhana bisa mencegah misinformasi yang menyebar cepat di media sosial. Di era banjir informasi, memahami perbedaan antara fakta dan folklor jadi keterampilan penting bagi setiap orang.