Sigmund Freud mengembangkan teori tentang cara kerja pikiran manusia lebih dari 130 tahun lalu. Dalam 1 studi baru, neuroscience modern mulai membuktikan bahwa ia tidak sepenuhnya salah.

Sebuah studi dari University of Oslo yang diterbitkan 1 Juli 2026 di jurnal Entropy mengungkap kesamaan mendasar antara predictive processing—teori dominan neuroscience saat ini—dengan model pikiran Freudian yang dikembangkan sejak 1896.

Predictive Processing vs Psikoanalisis

Predictive processing menyatakan otak terus-menerus membuat prediksi tentang input sensorik dan memperbaruinya melalui sinyal kesalahan. Ini disebut perceptual inference. Otak juga berusaha membuat dunia sesuai prediksinya—active inference.

Menurut peneliti utama Erik Stänicke dari University of Oslo, konsep ini identik dengan proyeksi dalam psikoanalisis.

"Saat kita menghubungkan kualitas, niat, atau perasaan pada orang lain, otak kita membentuk pengalaman dunia sesuai ekspektasi yang sudah mapan."

Perbedaannya hanya level analisis: neuroscience melihatnya dari sisi fisiologis, psikoanalisis dari sisi subjektif.

Kenapa Ini Penting?

Kedua kerangka ini menjelaskan mengapa perubahan psikologis butuh waktu lama. Ekspektasi tersimpan bukan hanya sebagai keyakinan sadar, tapi dalam procedural memory—pola relasional yang mengakar.

"Mungkin ada orang yang secara otomatis mengharapkan kritik, penolakan, atau permusuhan dari orang lain, dan karena itu menafsirkan situasi melalui filter ini meskipun kenyataan tidak mendukungnya."

Ini relevan untuk terapi: perubahan mungkin perlu bekerja secara relasional, menawarkan pengalaman interpersonal baru untuk membentuk ulang pola yang mengakar.

Masa Depan Psikologi Holistik

Para peneliti mengadvokasi integrasi kedua bidang:

  • Neuroscience prediktif bisa memberi landasan biologis untuk konsep psikoanalisis
  • Psikoanalisis bisa membantu neuroscience memahami pengalaman subjektif dari prediksi dalam kehidupan sehari-hari

"Menyatukan dua bidang ini bisa membuka jalan untuk psikologi yang lebih holistik, di mana mekanisme neurologis dan pengalaman subjektif disertakan."

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Entropy oleh Erik Stänicke, Bendik Sparre Hovet, dan Line Indrevoll Stänicke dari University of Oslo. Studi ini melibatkan 3 peneliti dan dipublikasikan di jurnal Entropy. Studi ini melibatkan 3 peneliti: Erik Stänicke, Bendik Sparre Hovet, dan Line Indrevoll Stänicke.

Kesimpulan

Temuan ini menunjukkan bahwa batas antara psikoanalisis klasik dan neuroscience modern mungkin tidak selebar yang selama ini diasumsikan. Integrasi kedua bidang bisa membuka pendekatan baru dalam memahami dan menangani gangguan mental—bukan hanya dari sisi kimia otak, tapi juga dari pola relasional yang terbentuk sejak lama.