Bayangkan aspal di jalanan kota meleleh seperti cokelat di suhu 41,7°C. Itulah yang terjadi di Jerman pekan ini — rekor suhu baru yang bikin sistem transportasi lumpuh dan menewaskan lebih dari 1.300 orang di seluruh Eropa.

Jerman mencatat suhu 41,7°C di Coschen, Brandenburg pada 28 Juni 2026 — mengalahkan rekor 41,5°C yang baru tercipta sehari sebelumnya di Drewitz.

Rekor Beruntun dalam Sepekan

Menurut data DWD (Deutscher Wetterdienst), suhu 41,7°C di Coschen tercatat Minggu, 28 Juni sore. Malam sebelumnya jadi yang terpanas dalam hampir 150 tahun pencatatan resmi, dengan suhu terendah 29,4°C di Kubshuetz, Sachsen. Republik Ceko juga mencetak rekor nasional baru: 41,1°C di Doksany.

Infrastruktur Mulai Runtuh

Panas ekstrem ini bukan sekadar angka — aspal benar-benar meleleh. Di Leipzig, sistem trem dihentikan total karena rel mengalami deformasi akibat panas. Di jalan tol A2 Sachsen-Anhalt, permukaan aspal menggelembung dan terangkat, memaksa penutupan sementara. Beberapa ruas di Brandenburg dan Sachsen-Anhalt masih ditutup.

"Infrastruktur yang dirancang berdasarkan kondisi iklim masa lalu di negara-negara Eropa, kini semakin rentan menghadapi suhu yang memecahkan rekor," tulis laporan detikNews.

Korban Jiwa di 3 Negara

WHO melaporkan lebih dari 1.300 kematian di seluruh Eropa akibat gelombang panas sejak 21 Juni 2026. Prancis mencatat sekitar 1.000 kematian sejak 24 Juni — 85% di antaranya lansia. Angka ini diperkirakan masih akan bertambah.

Mengapa Ini Penting?

Eropa sedang mengalami apa yang selama ini diperingatkan ilmuwan iklim: suhu ekstrem yang dulunya "sekali dalam seabad" kini terjadi setiap beberapa tahun. Infrastruktur transportasi dan layanan kesehatan di negara maju sekalipun ternyata tidak siap. Bagi Indonesia, ini adalah pengingat bahwa perubahan iklim bukan ancaman masa depan — sudah terjadi.

Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya?

Para ahli memperkirakan gelombang panas seperti ini akan semakin sering terjadi. Kota-kota Eropa mulai mempercepat adaptasi: atap putih reflektif, jalur hijau, dan sistem pendingin publik. Tapi prioritas saat ini masih menyelamatkan nyawa — terutama lansia yang paling rentan.