- Studi terhadap 5 komunitas global (Tsimane Bolivia, Okinawa Jepang, Sardinia Italia, Ikaria Yunani, Nicoya Kosta Rika) ungkap pola makan paling sehat.
- Tsimane punya tingkat demensia terendah di dunia. The BMJ kaitkan makanan ultra-proses dengan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2.
- Kuncinya: makanan minim proses, tinggi serat, dan aktivitas fisik sebagai rutinitas harian.
Selama bertahun-tahun, industri kesehatan terus menawarkan diet baru: keto, paleo, intermittent fasting, plant-based. Tapi studi terhadap komunitas dengan tingkat penyakit kronis terendah di dunia menunjukkan jawaban yang jauh lebih sederhana.
Peneliti dari University of Southern California dan berbagai institusi mempelajari lima komunitas di seluruh dunia - Tsimane dan Moseten di Amazon Bolivia, Okinawa di Jepang, Sardinia di Italia, Ikaria di Yunani, dan Nicoya Peninsula di Kosta Rika. Hasilnya: mereka makan makanan yang sangat berbeda, tapi punya satu kesamaan. "Pola makan tradisional yang paling sehat tidak bergantung pada satu bahan ajaib, melainkan pada makanan yang masih terlihat seperti aslinya di alam," tulis laporan yang dipublikasikan pada 1 Juli 2026.
Tsimane: Tingkat Demensia Terendah di Dunia
Suku Tsimane di Bolivia tercatat memiliki tingkat demensia terendah di antara lansia yang pernah diukur. Studi University of Southern California menemukan hanya 1% lansia Tsimane yang menunjukkan tanda demensia - jauh lebih rendah dibanding 10-15% pada populasi usia lanjut di negara Barat. Mereka juga memiliki penyakit arteri koroner yang sangat rendah. Pola makan mereka terdiri dari pisang, singkong, nasi, jagung, kacang-kacangan, ikan, hewan buruan, dan buah hutan - tinggi serat, rendah gula tambahan dan makanan ultra-proses.
Aktivitas fisik juga menjadi kunci. Berjalan, berkebun, memancing, dan berburu adalah bagian dari rutinitas harian, bukan olahraga terjadwal.
Masalah Makanan Ultra-Proses
Sebuah umbrella review di The BMJ yang menganalisis lebih dari 50 studi menemukan bahwa konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular hingga 24%, diabetes tipe 2, dan gangguan kesehatan mental. Para peneliti juga secara aktif menyelidiki hubungannya dengan penurunan fungsi kognitif.
"Tidak ada ilmuwan serius yang berargumen bahwa satu biskuit menyebabkan demensia atau satu makanan siap saji menyebabkan penyakit jantung," tulis laporan tersebut. Kesehatan dibentuk oleh genetika, pendapatan, pendidikan, akses kesehatan, olahraga, tidur, dan stres.
Pelajaran untuk Kehidupan Modern
Pola makan tradisional mengajarkan lima prinsip sederhana: masak dari bahan utuh bila memungkinkan, makan sayur musiman yang bervariasi, kurangi minuman manis, integrasikan gerakan ke rutinitas harian, dan prioritaskan makan bersama tanpa gangguan.
Yang menarik, tidak satu pun dari komunitas ini menyebut pola makan mereka sebagai "program kesehatan". Mereka hanya makan makanan yang sudah tersedia di lingkungan mereka selama bergenerasi. "Mungkin terobosan nutrisi terbesar dalam dekade terakhir bukanlah sesuatu yang baru. Bisa jadi ini adalah kesadaran bahwa semakin jauh makanan kita dari alam, semakin hati-hati kita harus bertanya apa yang terjadi padanya di sepanjang jalan," tulis penulis Scott Podmore.
Kenapa Ini Penting?
Temuan ini menantang asumsi bahwa diet paling sehat adalah diet terbaru yang ditemukan ilmuwan. Faktanya, pola makan tradisional yang sudah berjalan selama bergenerasi - tanpa label "diet" atau "program kesehatan" - justru memberikan hasil terbaik. Bagi masyarakat modern yang dikelilingi makanan ultra-proses, pelajarannya sederhana: semakin sedikit makanan diproses, semakin baik untuk kesehatan jangka panjang.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa pola makan paling sehat menurut studi ini?
Bukan diet modern, tapi pola makan tradisional dari 5 komunitas: Tsimane (Bolivia), Okinawa (Jepang), Sardinia (Italia), Ikaria (Yunani), dan Nicoya (Kosta Rika). Kesamaannya: makanan minim proses, tinggi serat, dan rendah gula tambahan.
Apa bukti ilmiah tentang bahaya makanan ultra-proses?
Umbrella review di The BMJ yang menganalisis lebih dari 50 studi mengaitkan konsumsi makanan ultra-proses dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular hingga 24%, diabetes tipe 2, dan gangguan kesehatan mental.
Apa yang bisa diterapkan dari pola makan tradisional ke kehidupan modern?
Lima prinsip: masak dari bahan utuh, makan sayur musiman bervariasi, kurangi minuman manis, integrasikan gerakan ke rutinitas harian, dan prioritaskan makan bersama tanpa gangguan.
