China kembali mencuri perhatian di dunia teknologi. Lewat superkomputer bernama LineShine, negara Tirai Bambu berhasil merebut posisi pertama daftar Top500 pada 24 Juni 2026. Yang bikin penasaran: LineShine melakukannya tanpa GPU Nvidia sama sekali.

Apa yang bikin LineShine spesial?

Superkomputer ini mencatatkan performa hingga 2.198 petaflop dalam benchmark Linpack. Angka ini 21 persen lebih tinggi dari superkomputer milik Amerika Serikat, El Capitan, yang hanya mencapai 1.809 petaflop. Di tolok ukur HPCG yang dianggap lebih mewakili performa aplikasi saintifik di dunia nyata, LineShine juga unggul dengan skor 22,00 — jauh di atas El Capitan (17,41) dan Fugaku milik Jepang (16,00). Keunggulan di dua tolok ukur sekaligus ini menegaskan dominasi LineShine secara menyeluruh.

Rahasianya: Arsitektur CPU Murni

Di era di mana hampir semua superkomputer modern mengandalkan kombinasi CPU dan GPU — dan sebagian besar GPU tersebut berasal dari Nvidia — LineShine justru memilih jalur berbeda. Superkomputer ini menggunakan arsitektur CPU murni alias CPU-only. Keputusan ini bukan sekadar pilihan teknis, tapi juga langkah strategis di tengah pembatasan ekspor chip canggih AS ke China yang dimulai beberapa tahun terakhir. China membuktikan mereka tidak perlu bergantung pada GPU asing.

Kembali ke puncak setelah 8 tahun

China terakhir kali menduduki posisi pertama Top500 pada 2017. Setelah delapan tahun, LineShine membawa China kembali ke puncak. Top500 sendiri adalah daftar superkomputer terkuat di dunia yang diperbarui setiap Juni dan November sejak 1993. Pencapaian ini sekaligus menandai kebangkitan China di bidang komputasi berkinerja tinggi (HPC).

Dampak bagi persaingan global

Keberhasilan LineShine membuktikan China tetap bisa bersaing di level tertinggi tanpa akses ke GPU Nvidia terbaru. Di tengah perang chip antara AS dan China yang terus memanas, prestasi ini jadi sinyal kuat bahwa peta persaingan teknologi global sedang berubah drastis. China kini tidak hanya mengejar ketertinggalan, tapi juga menunjukkan kemandirian teknologi yang patut diperhitungkan. Para pengamat dan analis kini menunggu respons AS serta langkah China selanjutnya dalam pengembangan superkomputer generasi mendatang.