- Psikolog Mark Travers identifikasi 3 pola hubungan yang sering disangka sehat: overfunctioning, menghindari konflik, dan mengira intensitas sebagai intimasi.
- 2019 studi di Sex Roles: perempuan yang memikul beban emosional rumah tangga punya kepuasan hidup lebih rendah.
- Riset Dr. John Gottman: cara menangani konflik adalah prediktor terkuat kegagalan hubungan.
Banyak orang mengira hubungan yang baik adalah yang tanpa konflik, penuh perhatian, dan terasa intens. Tapi menurut psikolog Mark Travers dalam artikelnya di Forbes 3 Januari 2026, tiga pola ini justru sering jadi sumber kehancuran hubungan jangka panjang.
"Kebanyakan hubungan tidak gagal karena satu peristiwa besar. Mereka runtuh perlahan karena pola—yang dulu terasa aman, tapi lama-lama jadi korosif," tulis Travers.
Pola 1: Selalu Mengurus Segalanya Demi Cinta
Orang dengan pola ini selalu bersikap low maintenance, mengantisipasi kebutuhan semua orang, dan merapikan konflik sebelum muncul ke permukaan. Ini disebut overfunctioning.
Sebuah 2019 studi di jurnal Sex Roles menemukan bahwa perempuan secara tidak proporsional menanggung beban emosional dan logistik rumah tangga—mulai dari mengatur jadwal hingga memonitor kondisi emosi anak. Perempuan yang merasa paling bertanggung jawab melaporkan kepuasan hidup lebih rendah dan beban peran lebih tinggi.
Cara mengubahnya: Tahan keinginan untuk memperbaiki semuanya. Beri ruang pada pasangan untuk belajar.
Pola 2: Menghindari Konflik dan Menyebutnya Kecocokan
"Aku nggak suka drama" sering dianggap tanda kedewasaan. Padahal, menurut riset Dr. John Gottman, cara pasangan menangani konflik adalah prediktor terkuat kegagalan hubungan.
Sebuah 2022 studi di International Journal of Environmental Research and Public Health menunjukkan bahwa pasangan yang menekan emosi justru lebih rentan mengalami ketidakpuasan jangka panjang. Konflik yang dihindari muncul kembali sebagai pasif-agresif, jarak emosional, atau kesepian.
Cara mengubahnya: Anggap konflik sebagai data, bukan bahaya. Ketidaksepakatan mengungkap kebutuhan dan batasan yang perlu diselaraskan.
Pola 3: Mengira Intensitas Itu Intimasi
Hubungan yang terasa intens—cepat dekat, komunikasi 24 jam, drama naik-turun—sering dikira cinta sejati. Padahal intensitas awal didorong dopamin, bukan kelekatan aman.
Studi di Psychoneuroendocrinology menemukan bahwa ikatan romantis awal melibatkan oksitosin tinggi, tapi bisa berjalan beriringan dengan kecemasan. Orang yang mengutamakan intensitas sering mengabaikan kualitas penting jangka panjang: keandalan, kebaikan, dan kemampuan memperbaiki hubungan setelah konflik.
Cara mengubahnya: Perhatikan seberapa tenang kamu bersama pasangan, bukan seberapa kuat perasaanmu. Tanyakan: "Apakah hubungan ini membuat hidupku meluas atau menyempit?"
Kesimpulan
Jika 2026 menjadi tahun kamu menjalani hubungan dengan lebih sadar, itu bukan karena kamu berusaha lebih keras. Tapi karena kamu memahami dirimu lebih jelas.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah menghindari konflik itu baik dalam hubungan?
Tidak. Menurut riset Dr. John Gottman, cara menghadapi konflik adalah prediktor terkuat kegagalan hubungan, bukan ada atau tidaknya konflik. Menghindari konflik justru membuat masalah membusuk dalam diam.
Apa bedanya intensitas dan intimasi dalam hubungan?
Intensitas didorong dopamin dan sering muncul di awal hubungan—cepat dekat, komunikasi terus-menerus. Intimasi adalah rasa aman yang tumbuh seiring waktu, ditandai dengan keandalan, kebaikan, dan kemampuan memperbaiki hubungan setelah konflik.
Apa yang dimaksud overfunctioning dalam hubungan?
Kebiasaan selalu mengurus segalanya: mengantisipasi kebutuhan pasangan, menyerap emosi, mencegah konflik. Ini sering dikira bentuk cinta, tapi studi 2019 di Sex Roles menunjukkan ini justru menurunkan kepuasan hidup.
