Dua studi Curtin University di The Lancet pada 500.000 orang selama satu dekade mengungkap:
- 45% demensia terkait faktor modifiable: aktivitas fisik, merokok, koneksi sosial
- Otot lemah + lemak berlebih (sarcopenic obesity) pendorong utama risiko, bukan berat badan
- Kampanye kesadaran biasa gagal; pendekatan personal dan komunitas lebih efektif
Angka 45% mungkin terdengar kecil, tapi ini soal jutaan nyawa yang bisa diselamatkan. Sebanyak 45% kasus demensia sebenarnya bisa dicegah — tapi kampanye kesehatan selama ini tidak bekerja cukup keras.
Dua studi dari Curtin University yang dipublikasikan di The Lancet Healthy Longevity pada 2 Juli 2026 mengungkap kesenjangan besar antara pengetahuan dan aksi.
Riset pada 500.000 Orang
Peneliti menganalisis kampanye kesehatan di delapan negara dan melacak sekitar 500.000 orang dewasa selama lebih dari satu dekade. Hasilnya mengungkap faktor risiko yang selama ini terabaikan.
Profesor Mario Siervo dari Curtin's School of Population Health menjelaskan bahwa 45% kasus demensia terkait dengan faktor yang bisa dikendalikan: aktivitas fisik, merokok, pendidikan, dan koneksi sosial.
"Mengetahui risiko saja tidak sama dengan bertindak, dan kesadaran saja jarang menghasilkan perubahan yang bertahan lama," kata Profesor Siervo.
Otot Kuat vs Berat Badan
Temuan paling menarik: sarcopenic obesity (kombinasi otot lemah dan lemak tubuh berlebih) adalah pendorong utama risiko demensia. Berat badan berlebih saja tidak terkait dengan risiko yang lebih tinggi jika kekuatan otot tetap terjaga.
Menurut Profesor Siervo, "Tetap kuat mungkin sama pentingnya dengan tetap langsing."
Kenapa Kampanye Biasa Gagal
Profesor Blossom Stephan dari Curtin's enAble Institute menambahkan bahwa banyak orang masih menganggap demensia sebagai bagian tak terhindarkan dari penuaan. Padahal tidak. Tapi hambatan praktis seperti waktu, biaya, dan motivasi sering menghalangi perubahan.
Kampanye kesadaran luas ternyata hanya mengubah pengetahuan sedikit dan hampir tidak mengubah perilaku. Riset di delapan negara menunjukkan hasil yang konsisten: edukasi massal lewat poster, iklan, dan brosur tidak cukup untuk mengubah kebiasaan sehari-hari.
Yang benar-benar efektif: program online dengan langkah konkret untuk kesehatan otak, penilaian risiko personal yang menunjukkan dampak gaya hidup individu secara langsung, dan program komunitas yang disampaikan tokoh lokal terpercaya seperti kader kesehatan atau teman sebaya.
Kesimpulan
Demensia bukan takdir. Dengan fokus pada kekuatan otot, aktivitas fisik, koneksi sosial, dan pendekatan personal, risiko bisa dikurangi secara signifikan. Langkah pertama: jangan cuma tahu — bertindaklah.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa faktor utama pencegah demensia menurut studi ini?
Studi menemukan sarcopenic obesity (otot lemah + lemak berlebih) adalah pendorong utama risiko demensia. Menjaga kekuatan otot lebih penting daripada berat badan semata.
Berapa banyak kasus demensia yang bisa dicegah?
45% kasus demensia terkait dengan faktor yang bisa dimodifikasi seperti aktivitas fisik, merokok, pendidikan, dan koneksi sosial, menurut studi Curtin University.
Apa yang lebih efektif daripada kampanye kesadaran biasa?
Program online dengan langkah konkret, penilaian risiko personal, dan program komunitas yang disampaikan tokoh lokal terbukti lebih efektif mengubah perilaku daripada kampanye kesadaran umum.
