Selama ini banyak orang mengira serangan jantung bisa datang tiba-tiba tanpa alasan jelas pada orang yang tampak sehat.

Tapi studi terbaru yang menganalisis data lebih dari 9 juta orang dewasa di Amerika Serikat dan Korea Selatan membantah anggapan itu.

Menurut dr. Philip Greenland, ahli jantung senior dari Northwestern University yang dikutip Science Alert pada 27 Juni 2026, 99% pasien yang mengalami serangan jantung, stroke, atau gagal jantung sudah memiliki setidaknya satu dari empat faktor risiko utama.

Hanya 1% kasus yang benar-benar terjadi tanpa faktor risiko yang terdeteksi. Ini artinya, sebagian besar kejadian kardiovaskular sebenarnya bisa diprediksi dan dicegah.

Empat Faktor Risiko Utama

Keempat faktor yang dimaksud bukan hal baru, tapi studi ini mengukur dampaknya secara lebih presisi:

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi) — paling dominan, ditemukan pada lebih dari 93% kasus.
  • Kolesterol tinggi — mempercepat penyempitan pembuluh darah.
  • Kadar gula darah tinggi (diabetes/prediabetes) — merusak dinding pembuluh darah.
  • Kebiasaan merokok — perokok aktif maupun mantan perokok.

Bahkan pada kelompok yang dianggap paling rendah risiko — wanita di bawah 60 tahun — lebih dari 95% kasus serangan jantung tetap terkait dengan keempat faktor ini.

Kenapa Banyak yang Salah Sangka?

Peneliti menduga studi sebelumnya sering melewatkan diagnosis atau tidak menangkap indikasi awal yang berada sedikit di bawah ambang klinis. Akibatnya, banyak pasien yang merasa tidak punya faktor risiko padahal sudah ada tanda-tanda awal.

"Tujuannya sekarang adalah bekerja lebih keras untuk menemukan cara mengendalikan faktor risiko yang dapat dimodifikasi ini, daripada keluar jalur mengejar faktor lain yang tidak mudah diobati," kata Greenland.

Yang Bisa Dilakukan

Kabar baiknya, semua faktor risiko ini bisa dimodifikasi. Langkah paling efektif:

  • Rutin cek tekanan darah — hipertensi adalah faktor paling dominan.
  • Jaga pola makan untuk mengontrol kolesterol dan gula darah.
  • Berhenti merokok.
  • Konsultasi ke dokter untuk pengelolaan risiko secara menyeluruh.

Intinya, serangan jantung bukan soal nasib buruk. Ini soal faktor risiko yang bisa dikendalikan sejak dini.