Sebanyak 75% jurnalis Indonesia sudah memakai AI dalam pekerjaan harian mereka. Di sisi lain, media yang bergantung pada organic traffic bisa kehilangan lebih dari 50% kunjungan.
- 75% dari 212 jurnalis survei BBC Media Action memakai AI setiap hari
- Media bisa kehilangan lebih dari 50% kunjungan karena zero-click search dan AI crawler
- Kompas.com dan Zona Utara punya strategi berbeda menghadapi AI
AI Geser Jurnalisme Indonesia: 75% Jurnalis Pakai AI, Media Kehilangan 50% Traffic
AI bukan lagi alat eksperimental di Indonesia. Sebanyak 75% dari 212 jurnalis yang disurvei BBC Media Action menggunakannya dalam pekerjaan harian. ChatGPT (86%) dan Gemini (63%) mendominasi. Tapi di sisi lain, media yang bergantung pada organic traffic bisa kehilangan lebih dari 50% kunjungan.
Bagaimana AI mengubah cara kerja redaksi, mengancam model bisnis, dan memaksa media Indonesia menemukan peran baru? Investigasi D+C yang dipublikasikan 27 Maret 2026 memberikan gambaran mendalam tentang transformasi yang sedang berlangsung.
AI Masuk Redaksi: Dari Eksperimen ke Rutinitas
AI mulai masuk ke organisasi media Indonesia pada 2023. Setelahnya, outlet mulai mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja produksi. Pada 2026, penggunaan AI sudah menjadi rutinitas sehari-hari di banyak redaksi.
Riset berjudul “Understanding the Use of AI in Indonesian Newsrooms” oleh BBC Media Action menunjukkan pergeseran ini. Responden melaporkan bahwa AI digunakan untuk editing, automated tagging, voice generation, on-screen avatars, headline suggestions, desain, audio/video editing, CMS support, dan konversi data menjadi artikel.
Namun hanya 28% responden yang memakai AI untuk factchecking. Dari kelompok itu, hampir separuh menggunakannya setiap hari.
Sikap Ambivalen: Peluang sekaligus Ancaman
Secara keseluruhan, sikap jurnalis Indonesia terhadap AI bersifat ambivalen. Sekitar 70% responden melihat AI sebagai peluang. Mereka menyebut manfaat berupa alur kerja lebih cepat, kapasitas kreatif lebih besar, dan analisis data lebih baik.
Namun 45% responden juga menganggap AI sebagai ancaman. Sekitar 30% memperingatkan risiko: nilai jurnalistik melemah, berkurangnya lapangan kerja, plagiat, duplikasi konten, dan misinformasi.
Laporan 2024 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menambahkan daftar risiko: disinformasi, bias algoritma, ketidakpastian hak cipta untuk material yang dibantu atau dihasilkan AI, dan pertanggungjawaban editorial.
Dampak Bisnis: Zero-Click Search dan AI Crawler
Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika mengidentifikasi dua ancaman utama bagi model bisnis media:
1. Zero-click search
Pengguna semakin jarang mengunjungi situs berita karena langsung mendapat jawaban dari AI platform seperti ChatGPT dan Google AI Overview. Akibatnya, outlet yang bergantung pada organic traffic mengalami penurunan kunjungan, dalam beberapa kasus lebih dari 50%.
“Inti dari bisnis media adalah kerumunan. Itu yang dimonetisasi. Ketika kerumunan menghilang, fondasi bisnis runtuh.” — Johanes Heru Margianto, managing editor Kompas.com
2. AI Crawler
Bot otomatis yang mengindeks situs berita jumlahnya kini melonjak. Bot-bot ini mengekstrak konten jurnalistik tanpa perjanjian lisensi atau kompensasi ke penerbit.
Faktanya, dari sekitar 500 anggota AMSI, hanya kurang dari 5% yang sudah memasang kontrol teknis seperti instruksi machine-readable untuk bot, protokol whitelist/blacklist, atau alat manajemen akses crawler.
AMSI kini sedang membangun infrastruktur berbasis OpenMind AI untuk memantau aktivitas crawling dan mengejar kompensasi dari sistem AI yang menambang konten jurnalistik. Organisasi ini saat ini mengujicobakan sistem dengan tiga anggota.
Studi Kasus: Dua Strategi Menghadapi AI
Bagaimana outlet besar dan kecil merespons tantangan ini? Dua studi kasus dari D+C menunjukkan pendekatan yang berbeda.
Kompas.com: AI Pioneer dengan Aturan Ketat
Sejak ChatGPT diluncurkan November 2022, Kompas.com — salah satu outlet online pertama di Indonesia — memposisikannya sebagai perintis AI aktif.
“Kami melihat masyarakat dan teknologi bergerak menuju AI dan peradaban sendiri akan ikut. Itulah kenapa kami mengeksplorasi AI.” — Johanes Heru Margianto
Kompas.com memberi ruang luas bagi jurnalis dan kreator konten untuk menguji AI dan menggunakannya di seluruh alur kerja, dari pra-produksi hingga distribusi. AI terintegrasi ke dalam CMS untuk mendeteksi typo dan menyarankan sudut cerita alternatif.
Namun Margianto mengingatkan bahwa redaksi tetap hati-hati menggunakan AI sebagai sumber informasi karena bisa tidak akurat dan menyesatkan, terutama ketika staf kurang memiliki keterampilan factchecking.
Kompas Gramedia — induk perusahaan — kemudian memformalkan aturan. Pada Oktober 2023, Margianto dan 11 rekan menyusun KG Media Guidelines on AI Utilization. Dokumen ini menetapkan persyaratan praktis penggunaan AI dan menetapkan konsekuensi hukum dan disipliner untuk pelanggaran, dari tertulis hingga pemutusan hubungan kerja.
Aturan ini membingkai AI sebagai alat pendukung yang tetap di bawah pengawasan manusia. Jurnalis boleh memakai AI untuk membandingkan dan mengembangkan gagasan, tetapi harus menyerahkan sepenuhnya pembuatan konten ke AI karena melemahkan keaslian karya jurnalistik.
Kompas.com juga memblokir bot AI dari scraping artikelnya dan memilih menjual jurnalisme secara langsung ke platform AI. Margianto memperkirakan penurunan traffic mereka sekitar 20%, yang ia anggap lebih ringan daripada yang dilaporkan outlet lain.
Zona Utara: Bangun AI Sendiri, Fokus Investigatif
Zona Utara, outlet media di Sulawesi Utara, telah bereksperimen dengan AI selama tiga tahun terakhir. Tapi alih-alih bersaing dalam siklus berita harian cepat, outlet kini memprioritaskan jurnalisme panjang (long-form) dan investigatif.
“Orang tidak lagi membuka Google. Mereka langsung ke AI. Jadi kenapa kami harus terus memproduksi berita harian?” — Ronny Buol, founder & editor-in-chief Zona Utara
Zona Utara masih mempublikasikan cerita harian untuk peristiwa besar, tapi tidak lagi mengorganisir alur kerja di sekitar pembaruan rutin.
Yang menarik, alih-alih memakai AI generik, Zona Utara membangun agen AI sendiri ke dalam CMS mereka. Agen ini mengikuti prompt ketat yang mencerminkan standar redaksi: harus mencakup 5W+1H (siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana), menyertakan langkah verifikasi, dan menyediakan byline jelas.
“Itu menggandakan beban kerja karena kami harus memverifikasi semua.” — Ronny Buol
Zona Utara juga membuat konten evergreen dengan bantuan AI. Contoh: jadwal kapal diambil dari data perusahaan penumpang dan kargo nasional, diubah menjadi artikel dan peta interaktif.
Untuk melindungi kualitas, redaksi memperkenalkan pedoman AI internal pada akhir 2024. Pelapor tidak boleh memakai AI generik, baik untuk mengurangi bias maupun melindungi data internal sensitif. Aturan juga mengharuskan transparansi: konten yang dibantu AI harus menyertakan disclaimer.
Pergeseran ini membuahkan hasil. Sejak pertengahan 2025, pembaca menghabiskan lebih banyak waktu di situs. “Kami memiliki audiens setia untuk liputan mendalam. Mungkin karena AI tidak menyediakan laporan investigatif,” kata Buol.
Kontroversi AI di Redaksi Indonesia
Penggunaan AI di redaksi sudah memicu kontroversi di Indonesia, dengan beberapa outlet menghadapi reaksi publik karena kesalahan terkait konten AI.
CNN Indonesia dikritik setelah mempublikasikan artikel tentang Presiden AS Donald Trump yang masih menyertakan rekomendasi yang dihasilkan AI. Kesalahan ini dengan cepat menyebar di media sosial dan mempertanyakan prosedur editorial dasar.
Pada Januari 2025, Radar Tulungagung dituduyebarkan informasi palsu tentang janji Presiden Prabowo Subianto untuk mengangkat pegawai negeri sipil baru. Artikel itu juga menggunakan ilustrasi bersumber dari Gemini.
Insiden-insiden ini menyoroti risiko utama AI dalam jurnalisme: kecepatan dan otomatisasi bisa mengorbankan akurasi dan kredibilitas.
Regulasi: Pedoman AI di Level Industri
Selain aturan internal perusahaan, Indonesia juga memiliki pedoman di level industri. Dewan Pers Indonesia menerbitkan pedoman AI sendiri pada Januari 2025. Pedoman ini menekankan bahwa redaksi harus menyelaraskan penggunaan AI dengan etika jurnalistik dan jurnalis tetap bertanggung jawab akhir untuk memverifikasi konten yang dibantu AI.
Pedoman ini menjadi penting mengingat AI tidak hanya mengubah cara produksi, tetapi juga menyangkut pertanyaan tentang keaslian karya, tanggung jawab hukum, dan perlindungan hak cipta untuk konten yang dibantu atau dihasilkan AI.
Masa Depan: Media Indonesia di Era AI
Lalu ke mana media Indonesia akan bergerak? Jawabannya tidak tunggal.
Outlet besar seperti Kompas.com memilih jalur: integrasi AI penuh dengan aturan ketat, memblokir crawler, dan menjual konten langsung ke platform AI.
Outlet kecil seperti Zona Utara memilih jalur berbeda: membangun AI sendiri, menghindari alat generik, dan beralih ke konten investigatif yang tidak bisa digantikan AI.
Yang jelas, satu hal yang semakin jelas: model bisnis berbasis traffic organik sedang terancam. Ketika audiens tidak lagi membuka Google dan langsung ke AI, maka fondasi monetisasi media runtuh.
Pertanyaan besarnya adalah: bagaimana Indonesia bisa menyeimbangkan efisiensi AI dengan keberlanjutan bisnis jurnalistik? Dan bagaimana jurnalisme bisa tetap relevan di era di mana informasi bisa dihasilkan oleh mesin?
Jawaban mungkin ada di jurnalisme mendalam dan investigatif — jenis konten yang tidak bisa digantikan oleh AI. Seperti yang dikatakan Ronny Buol: “Mungkin karena AI tidak menyediakan laporan investigatif.”
Pertanyaan yang sering muncul
Berapa persen jurnalis Indonesia yang sudah menggunakan AI?
Sebanyak 75% dari 212 jurnalis yang disurvei oleh BBC Media Action menggunakan AI dalam pekerjaan harian mereka.
Apa risiko utama AI bagi media Indonesia?
Risiko utama meliputi disinformasi, bias algoritma, penurunan traffic organik hingga lebih dari 50%, ancaman lapangan kerja, dan masalah hak cipta untuk konten yang dibantu atau dihasilkan AI.
Bagaimana Kompas.com merespons tantangan AI?
Kompas.com menjadi perintis AI dengan mengintegrasikan AI ke CMS, menyusun KG Media Guidelines on AI Utilization (Oktober 2023), memblokir AI crawler, dan menjual jurnalisme langsung ke platform AI.
Apa strategi Zona Utara yang berbeda?
Zona Utara membangun agen AI sendiri di CMS dengan prompt 5W+1H ketat, melarang AI generik, dan beralih ke jurnalisme investigatif dan long-form karena AI tidak bisa menggantikan laporan mendalam.
Apa regulasi AI di level industri di Indonesia?
Dewan Pers Indonesia menerbitkan pedoman AI pada Januari 2025 yang menekakan penyelarasan AI dengan etika jurnalistik dan tanggung jawab akhir jurnalis untuk verifikasi konten.
