Pemerintah resmi memberlakukan biodiesel B50 secara nasional mulai 1 Juli 2026. Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 yang ditetapkan pada 17 Juni 2026.

B50 adalah campuran 50% biodiesel berbasis minyak sawit (FAME) dan 50% solar konvensional. Menurut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, langkah ini menyelamatkan Indonesia dari ketergantungan impor solar.

"Besok Juli akan kita resmikan B50, itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar kita. Mulai tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar," kata Bahlil dalam konferensi pers.

Harga dan Masa Transisi

Harga B50 ditetapkan sekitar Rp6.800 per liter melalui skema subsidi, mengikuti mekanisme harga BBM solar bulanan yang sudah berjalan. Masa transisi berlaku dari 1 Juli hingga 30 September 2026 — selama periode ini, B40 masih boleh disalurkan di SPBU. Implementasi penuh dimulai 1 Oktober 2026, di mana seluruh SPBU wajib menjual B50.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa B50 akan diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Target Strategis

B50 membawa target ambisius. Konsumsi solar nasional sekitar 39 juta kiloliter per tahun. Dengan B50, Indonesia menghemat sekitar Rp48 triliun subsidi energi dan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil sebesar 4 juta kiloliter per tahun.

Impor minyak mentah Indonesia turun dari 1 juta barel per hari menjadi sekitar 700.000 barel per hari. Sebanyak 30 badan usaha bahan bakar nabati (BU BBN) terlibat, dengan Pertamina dan AKR menguasai sekitar 70% distribusi nasional.

Kendaraan yang Terdampak

Kendaraan yang menggunakan B50 meliputi truk logistik, bus, alat berat pertambangan, mesin pertanian, kapal, generator diesel, dan lokomotif. Uji coba di sektor non-otomotif menunjukkan konsumsi BBM naik sekitar 3,12% dibanding B40 — masih dalam batas wajar.

B50 juga membantu menjaga harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani. Bahlil menegaskan, "Harga petani sawit lagi turun, untuk menjamin market agar petani sawit kita harganya bagus, maka dilakukanlah hilirisasi terhadap konsumsi domestik."

Kenapa Ini Penting

B50 bukan sekadar pergantian BBM. Ini adalah langkah strategis menuju kemandirian energi nasional. Dengan mengakhiri impor solar dan memanfaatkan sumber daya sawit domestik, Indonesia mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga minyak global sekaligus mendukung industri sawit nasional.