Kehilangan kekuatan otot saat tua bukan akhir dari segalanya. Sebuah studi dari Duke-NUS Medical School Singapore menemukan bahwa olahraga bisa membalikkan penuaan otot — dan mereka akhirnya tahu mekanisme molekulernya.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) 6 Juli 2026 mengidentifikasi gen bernama DEAF1 sebagai penyebab utama penuaan otot. Kabar baiknya: aktivitas fisik bisa menurunkan kadar gen ini secara signifikan.

Gen DEAF1: Biang Kerok Otot Lemah

Sejak usia paruh baya, otot mulai kehilangan kekuatan dan fungsinya. Risiko jatuh, patah tulang, dan pemulihan yang lambat meningkat drastis. Para peneliti dari Duke-NUS Cancer and Stem Cell Biology Program menemukan bahwa jalur pertumbuhan bernama mTORC1 menjadi 2 kali lebih aktif pada otot yang menua.

"Ketidakseimbangan ini menyebabkan otot fokus membangun protein baru tapi jadi kurang efisien dalam membuang protein yang rusak," kata Asisten Profesor Tang Hong-Wen, peneliti utama studi ini, seperti dikutip ScienceDaily 6 Juli 2026.

Gen DEAF1 yang meningkat seiring usia menjadi pendorong utama ketidakseimbangan ini. Semakin tinggi DEAF1, semakin sulit otot membersihkan kerusakan.

Olahraga sebagai Tombol Reset

Peneliti menemukan bahwa olahraga mengaktifkan protein tertentu yang menurunkan kadar DEAF1. Begitu DEAF1 turun, jalur mTORC1 kembali normal, dan otot bisa membersihkan protein rusak serta memperbaiki diri.

Peneliti utama Priscillia Choy Sze Mun menjelaskan, "Olahraga menyuruh otot untuk 'membersihkan dan mengatur ulang.' Menurunkan DEAF1 membantu otot yang menua mendapatkan kembali kekuatan dan keseimbangan — hampir seperti menekan tombol putar ulang." 6 Juli 2026

Eksperimen pada lalat buah dan tikus tua menunjukkan hasil yang konsisten: menaikkan DEAF1 mempercepat kelemahan otot, sementara menurunkannya memulihkan keseimbangan protein dan kekuatan otot.

Keterbatasan dan Potensi ke Depan

Meski menjanjikan, ada batasan. Jika kadar DEAF1 sudah sangat tinggi — atau aktivitas protein FOXO yang mengontrol DEAF1 sangat rendah — olahraga saja mungkin tidak cukup. Ini menjelaskan kenapa sebagian orang tua mendapat manfaat lebih besar dari olahraga dibanding yang lain.

Profesor Patrick Tan, Senior Vice-Dean for Research di Duke-NUS, menambahkan, "Dengan mengidentifikasi DEAF1 sebagai regulator utama, temuan ini bisa membuka jalan untuk menghadirkan manfaat olahraga pada populasi yang menua dengan cepat — terutama bagi mereka yang tidak bisa berolahraga karena sakit atau setelah operasi." 6 Juli 2026

Kenapa Ini Penting

Populasi lanjut usia di Indonesia mencapai 11,75% pada 2025 menurut BPS. Kelemahan otot (sarcopenia) adalah salah satu penyebab utama hilangnya kemandirian pada lansia. Temuan DEAF1 membuka peluang terapi baru yang bisa meniru efek olahraga secara molekuler — artinya, mereka yang tidak bisa bergerak pun tetap bisa mendapatkan manfaat otot yang lebih kuat.

Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti saran medis profesional. Konsultasikan dengan dokter sebelum memulai program olahraga baru.