Menurut data terbaru WHO, Laporan Status Kanker Global 2026 memperingatkan lonjakan besar kasus kanker dalam beberapa dekade mendatang. Laporan pada 9 Juli 2026 ini mengungkapkan bahwa 1 dari 5 orang berisiko terkena kanker seumur hidup, dan 92% populasi global terkena dampaknya.

Saat ini ada 20,6 juta kasus baru per tahun dengan 10 juta kematian. Tanpa perubahan signifikan, angka ini bisa melonjak menjadi 35 juta per tahun pada 2050 akibat gaya hidup, penuaan, dan kesenjangan akses kesehatan.

Kesenjangan Akses Negara Kaya vs Miskin

Yang bikin prihatin: kesenjangan akses antara negara kaya dan miskin sangat timpang. Di negara berpendapatan tinggi, 85% pasien kanker payudara dan kanker anak bertahan hidup. Di negara miskin, angka ini kurang dari 30%. Dari 20 obat kanker prioritas WHO, negara miskin hanya punya akses ke 9–54%, sementara negara kaya bisa mendapat 68–94%. 23 negara bahkan belum punya fasilitas radioterapi sama sekali.

Dr. Andre Ilbawi, Ketua Tim Pengendalian Kanker WHO, mengatakan perhatian dunia lebih tertuju pada teknologi dan terapi baru. "Di balik kemajuan tersebut masih terdapat kenyataan pahit bahwa jutaan pasien belum memperoleh akses yang layak," ujarnya. Dampaknya nyata: di beberapa negara, hingga 90% pasien menghentikan pengobatan karena biaya.

Abigail Simon-Hart, penyintas kanker payudara dari Nigeria, menambahkan sisi lain masalah ini. Ia kerap melihat keluarga harus memilih antara pengobatan dan sekolah anak. "Stigma terhadap kanker masih sangat kuat. Bahkan ada perempuan yang menolak operasi penyelamatan karena takut kehilangan payudara," katanya. Kawasan Afrika Sub-Sahara paling terdampak dengan angka kematian tinggi akibat diagnosis terlambat.

Kabar Baik: 4 dari 10 Kasus Bisa Dicegah

Laporan juga mencatat kemajuan: upaya eliminasi kanker serviks makin maju, konsumsi tembakau menurun, dan makin banyak pemerintah punya rencana aksi nasional. Faktor risiko yang bisa dicegah mencakup 4 dari 10 kasus, yaitu tembakau, infeksi tertentu, alkohol, dan obesitas.

WHO menyerukan investasi bukan hanya pada pengobatan, tapi juga pencegahan, deteksi dini, diagnosis, dan perawatan. "Akses terhadap layanan kanker yang berkualitas harus menjadi hak setiap orang, bukan hanya mereka yang tinggal di negara kaya," tegas laporan ini.

Kenapa Ini Penting untuk Indonesia

Data WHO ini relevan untuk Indonesia. Dengan populasi besar dan cakupan kesehatan yang masih berkembang, deteksi dini dan gaya hidup sehat jadi kunci. Skrining rutin dan vaksinasi HPV bisa mencegah kanker serviks yang merupakan salah satu kanker tertinggi di Indonesia. Yang penting: 4 dari 10 kasus bisa dicegah dari sekarang.

Informasi ini bersifat informatif. Konsultasikan dengan tenaga medis untuk diagnosis dan pengobatan.