Untuk pertama kalinya dalam sejarah, media sosial dan platform video mengalahkan situs berita dan TV sebagai sumber berita utama.
- 54% kini akses berita lewat medsos, kalahkan situs berita (51%) dan TV (52%)
- Kepercayaan pada berita di level terendah sejak 2015: hanya 37%
- AI chatbot untuk berita tumbuh: 10%, naik dari 7% di 2025
Untuk pertama kalinya dalam sejarah jurnalisme digital, media sosial dan platform video mengalahkan situs berita dan televisi sebagai sumber berita utama. Laporan Reuters Institute for the Study of Journalism edisi ke-15, yang dirilis 16 Juni 2026, mencatat 54% responden mengakses berita lewat media sosial dan platform video, mengalahkan situs web berita (51%) dan televisi (52%).
Platform Menggeser Portal
Data dari survei terhadap 97.000 responden di 48 negara ini menunjukkan pergeseran radikal dalam kebiasaan konsumsi berita. Facebook tetap memimpin dengan 43%, disusul YouTube (34%), Instagram (26%), dan TikTok (20%). Pertumbuhan tercepat terjadi di platform berbasis video — TikTok naik signifikan sebagai sumber berita bagi pengguna muda.
Menurut Jim Egan, penulis laporan dari Reuters Institute, "Tema sentral tahun ini adalah platformisasi konsumsi berita. Untuk pertama kalinya, media sosial dan jaringan video lebih populer daripada TV dan situs berita."
Minat pada Berita Anjlok, Kepercayaan di Titik Terendah
Laporan juga mengungkap krisis yang lebih dalam. Proporsi orang yang mengatakan "sangat" atau "cukup" tertarik pada berita turun 13 poin persentase sejak 2021 menjadi sekitar 46%. Sementara itu, kepercayaan pada berita berada di level terendah sejak 2015: hanya 37% yang percaya pada berita sebagian besar waktu — turun 3 poin dari 2025 dan menurun di 29 dari 48 negara.
Kekhawatiran terhadap berita palsu juga melonjak. 62% responden khawatir tentang berita palsu, naik 4 poin dan meningkat di setiap pasar Eropa Barat.
AI Chatbot Mulai Digunakan untuk Berita
Meskipun belum meledak, penggunaan AI chatbot untuk berita meningkat. 10% responden global menggunakan AI chatbot untuk berita (naik dari 7% di 2025), dan angka ini melonjak hingga 16% di kelompok usia di bawah 35 tahun. Korea Selatan, Yunani, dan Spanyol mencatat pertumbuhan dua kali lipat.
Yang menarik: 42% pengguna AI chatbot selalu atau sering mengeklik sumber asli — mereka menggunakan AI sebagai pintu masuk, bukan pengganti.
Dampak bagi Publikasi Berita
Pergeseran ini berdampak langsung pada traffic situs berita. Rujukan organik dari mesin pencari ke situs berita turun 33% antara November 2024 dan November 2025. Google Discover, yang dulu menjadi andalan traffic, juga menunjukkan volatilitas tinggi — Reach PLC melaporkan penurunan traffic hingga 46% pada paruh kedua 2025 karena platform lebih memprioritaskan konten buatan pengguna dan video.
Kesimpulan
Laporan ini menandai titik balik: media tradisional tidak lagi menjadi gerbang utama informasi. Publik beralih ke platform — dan kepercayaan pada berita tradisional justru menurun di saat yang sama. Tantangan bagi industri media bukan lagi bagaimana bersaing di mesin pencari, melainkan bagaimana tetap relevan di ekosistem platform yang mengutamakan video, personalitas kreator, dan algoritma.
Pertanyaan yang sering muncul
Negara mana yang paling terdampak pergeseran ke media sosial?
Hampir semua dari 48 negara yang disurvei menunjukkan tren yang sama. Negara dengan penetrasi medsos tinggi seperti Korea Selatan, Brasil, dan Thailand mencatat penggunaan platform untuk berita di atas rata-rata. Sementara negara Nordik (Norwegia, Swedia) masih memiliki audiens yang lebih loyal ke situs berita langsung.
Apakah AI chatbot akan menggantikan portal berita?
Belum dalam waktu dekat. Hanya 10% pengguna global yang menggunakan AI chatbot untuk berita, dan 42% dari mereka tetap mengeklik ke sumber asli. AI chatbot lebih menjadi pintu masuk, bukan pengganti. Namun laporan memperingatkan traffic dari mesin pencari diprediksi turun 43% dalam tiga tahun ke depan.
Apa yang bisa dilakukan portal berita untuk bertahan?
Laporan menyarankan media fokus pada konten video, kemitraan dengan kreator, dan pengalaman yang tidak bisa direplikasi AI. 76% penerbit di 51 negara yang disurvei mengatakan akan membuat staf mereka lebih berperilaku seperti kreator. Fokus pada langganan dan pendapatan non-iklan juga menjadi strategi utama.
