Kebiasaan menambahkan garam ke makanan di meja makan ternyata lebih umum dari yang diperkirakan — dan polanya berbeda antara pria dan wanita.

Studi terbaru di Frontiers in Public Health pada 4 Juni 2026 melibatkan 8.300+ lansia Brasil (60+) dan menemukan temuan mengejutkan tentang kebiasaan garam kita.

Pria vs Wanita: Pola Berbeda

Data menunjukkan 12,7% pria masih tambah garam ekstra di meja, dibanding 9,4% wanita. Tapi yang lebih menarik: pemicunya beda total.

"Menambahkan garam ke makanan di meja tetap menjadi kebiasaan yang relatif umum di kalangan lansia Brasil, dan lebih sering terjadi pada pria," ujar Dr. Flávia Brito, peneliti utama dari Rio de Janeiro State University.

Pria yang tinggal sendiri 62% lebih mungkin tambah garam. Sebaliknya, pria yang menjalani diet hipertensi lebih jarang melakukannya — kurang dari setengah kemungkinan.

Pada wanita, faktor risikonya lebih kompleks. Yang tidak menjalani diet hipertensi 68% lebih mungkin tambah garam. Yang tinggal di perkotaan dan sering konsumsi makanan ultra-proses memiliki risiko dua kali lipat.

Kebiasaan yang Melindungi

Ada kabar baik. Wanita yang rutin makan buah memiliki kemungkinan 81% lebih rendah untuk tambah garam. Konsumsi sayur rutin menurunkan risiko 40%.

Dr. Débora Santos, rekan peneliti, menjelaskan: "Perilaku wanita dalam menambahkan garam lebih terkait pola makan luas dan karakteristik kontekstual. Pada pria, hanya sedikit variabel yang terkait — kebiasaan mereka mungkin kurang terkait langsung dengan pola diet spesifik."

Kenapa Kita Tambah Garam?

Ini bukan sekadar soal rasa. Konsumsi sodium tinggi dalam jangka panjang mengurangi sensitivitas garam di lidah — kita butuh lebih banyak garam untuk merasakan asin. Siklus yang sulit diputus.

WHO merekomendasikan batas konsumsi garam maksimal 5 gram per hari. Sekitar 6-20% asupan garam dari garam meja, sisanya dari makanan olahan.

Yang Bisa Kamu Lakukan

Peneliti menyarankan langkah sederhana: ganti garam dengan rempah alami atau perasan jeruk, jangan simpan tempat garam di meja, dan kurangi makanan ultra-proses.

Kesimpulan

Kebiasaan garam bukan masalah individu semata. Ada pola sosial dan gender berbeda yang perlu dipahami. Kampanye kesehatan publik perlu pendekatan berbeda untuk pria dan wanita — dan langkah kecil seperti tidak menyimpan garam di meja bisa mulai mengubah kebiasaan ini.