Tim peneliti Universitas Airlangga berhasil menemukan dua senyawa baru dari daun Apa-Apa yang secara ilmiah aktif melawan sel kanker serviks dan payudara.

Artinya, temuan ini membuka jalan bagi pengembangan obat antikanker dari bahan alam Indonesia. Menurut Prof Mulyadi Tanjung yang memimpin riset, belum ada penelitian sebelumnya yang membahas senyawa dalam daun ini. Temuan ini dipublikasikan pada 23 September 2025 oleh tim yang dipimpin Prof Dr Mulyadi Tanjung dari Fakultas Sains dan Teknologi.

Dua Senyawa Baru yang Ditemukan

Tim riset berhasil mengidentifikasi dua senyawa baru golongan metabolit sekunder, yaitu deoksihomoflemingin dan 3-hidroksiflemingin A.

Kedua senyawa ini merupakan senyawa kimia alami yang diproduksi tanaman sebagai mekanisme pertahanan diri.

"Tim kami memilih riset mengenai daun Apa-Apa juga mempertimbangkan banyak hal yang mana belum ada penelitian yang membahas temuan senyawa baru dalam daun ini, sehingga potensi risetnya sangat besar," ujar Prof Mulyadi.

Hasil Uji pada Sel Kanker

Kedua senyawa diuji pada sel kanker serviks (HeLa) dan sel kanker payudara (T47D), dan menunjukkan hasil positif yang kuat sebagai agen antikanker. Keunikan struktur kimia kedua senyawa ini berbeda dengan senyawa yang pernah ditemukan pada riset sebelumnya.

Tanaman daun Apa-Apa sendiri telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat Indonesia untuk perawatan organ reproduksi wanita. Hal ini menjadi dasar empiris yang memperkuat temuan ilmiah tim UNAIR.

Tiga Pilar Riset

Prof Mulyadi menjelaskan bahwa riset ini didasarkan pada tiga aspek.

Pertama, aspek ilmiah — kandungan senyawa kimia yang unik. Kedua, aspek pendidikan — melibatkan mahasiswa dalam proses penelitian. Ketiga, aspek praktis — riset dirancang agar dapat diindustrialisasikan ke depan.

"Dalam pemilihan riset ini, kami memperhatikan 3 aspek yaitu ilmiah dilihat dari kandungannya, aspek pendidikan dengan melibatkan mahasiswa, dan aspek praktis dengan mengembangkan riset tidak hanya di dalam laboratorium namun juga dapat digunakan untuk industri kedepannya," jelasnya.

Tahap Riset Selanjutnya

Saat ini riset masih berada pada tahap awal uji in vitro. Tim akan melanjutkan ke uji in vivo, uji klinis, dan serangkaian uji lainnya. Prof Mulyadi berharap riset ini tidak hanya dapat digunakan dalam dunia medis tetapi juga menunjukkan daya saing riset Indonesia di kancah global.

Kenapa Ini Penting

Artinya, temuan dua senyawa baru dari tanaman lokal Indonesia ini membuka peluang besar bagi pengembangan obat antikanker berbasis bahan alam yang lebih aman dibandingkan obat sintetis.

Dampaknya, Indonesia yang memiliki kekayaan biodiversitas luar biasa bisa memiliki obat antikanker buatan sendiri. Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa, namun riset tanaman herbal masih sangat minim.

Jika riset ini berhasil melewati uji klinis, daun Apa-Apa bisa menjadi salah satu andalan obat antikanker nasional yang bersaing di pasar global. Ini juga menunjukkan bahwa tanaman yang selama ini dianggap liar dan tidak berguna bisa memiliki nilai medis yang tinggi.

Disclaimer

Artikel ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai saran medis. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional untuk diagnosis dan pengobatan kanker.