Pemerintah Malaysia resmi memberlakukan regulasi baru impor mobil listrik utuh (CBU) mulai 1 Juli 2026. Aturan ini langsung memblokir merek China segmen harga terjangkau seperti BYD, Chery, dan Zeekr.

Ketentuan Baru Impor CBU

Setiap mobil listrik CBU yang masuk Malaysia kini wajib memenuhi dua syarat: nilai CIF minimal 200.000 ringgit Malaysia (sekitar Rp770 juta) dan tenaga motor listrik minimal 180 kW (241 dk).

"Ketentuan tersebut membuat ruang gerak mobil listrik berharga terjangkau semakin terbatas," tulis Ruly Kurniawan dalam laporannya di Kompas.com, 3 Juli 2026.

Merek yang Paling Terdampak

BYD menjadi yang paling terpukul. Seluruh lini produk BYD di Malaysia - Dolphin dan Atto 3 - berada di bawah batas harga 200.000 ringgit dan tenaga 180 kW. Chery dengan Omoda E5 dan Zeekr 7X juga tidak lolos.

Leapmotor dan Xpeng justru diuntungkan. Keduanya memanfaatkan fasilitas manufaktur yang sudah ada melalui kerja sama dengan perusahaan lokal Malaysia, sehingga tidak masuk kategori proyek baru.

Aturan Perakitan Lokal Diperketat

Untuk proyek manufaktur baru yang disetujui setelah 1 September 2025, pemerintah Malaysia mewajibkan: harga minimal kendaraan 100.000 ringgit, 80% hasil produksi wajib diekspor, dan proses pengelasan hingga perakitan akhir harus dilakukan di Malaysia.

BYD dikabarkan masih menunda pembangunan fasilitas perakitan di Tanjung Malim, Perak. Aturan ekspor 80% dinilai menjadi tantangan besar bagi investasi baru.

Kenapa Ini Penting

Regulasi ini menandai pergeseran proteksionisme otomotif di ASEAN. China saat ini mengekspor sekitar 7 juta unit mobil per tahun - hampir setengahnya kendaraan listrik. Malaysia ingin memastikan investasi asing membawa transfer teknologi nyata, bukan sekadar pasar dumping. Konsumen Malaysia kehilangan akses ke mobil listrik murah dari China, sementara produsen China terpaksa membangun pabrik lokal jika ingin bertahan di pasar yang punya 33 juta penduduk.

Menurut MITI (Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia), regulasi ini bertujuan menarik investasi berkualitas dan membangun rantai pasok industri otomotif nasional yang lebih mandiri.