Di tengah ledakan jumlah paper akademik dan meningkatnya dana riset global, publik justru makin jarang mendengar penemuan besar yang mengubah dunia. Sebuah studi di jurnal Science pada 28 Mei 2026 mengungkap fakta mengejutkan: sains modern kehilangan sisi disruptifnya.

Ilmuwan Muda Lebih Disruptif

Peneliti menganalisis karier ~12,5 juta ilmuwan yang menerbitkan paper antara 1960 hingga 2020. Hasilnya konsisten di berbagai bidang, dari matematika hingga kedokteran: peluang menghasilkan riset disruptif—yang menggeser karya lama dan membuka jalur penelitian baru—paling tinggi di awal karier, lalu menurun seiring bertambahnya usia akademik.

"Sains menjadi kurang transformatif," tulis para peneliti dalam studi tersebut.

Ilmuwan Senior Lebih Dekat dengan Teori Lama

Ilmuwan senior cenderung memperpanjang teori lama yang menjadi fondasi awal karier mereka. Di Amerika Serikat, setelah aturan pensiun wajib dosen usia 70 tahun dihapus pada 1994, ilmuwan AS mulai lebih sering mengutip paper lama. Sementara akademisi Inggris (dengan batas pensiun 65 tahun) menunjukkan pola berbeda—referensi mereka tetap lebih segar.

Indonesia Unggul dalam Riset Disruptif

Negara dengan banyak peneliti muda punya keunggulan geopolitik nyata. Studi ini menempatkan China, India, Indonesia, dan Bangladesh sebagai negara dengan tingkat riset disruptif lebih tinggi. Sementara Amerika Serikat dan Jepang justru berada di posisi lebih rendah.

"Generasi muda lebih mungkin membuka jalur penelitian baru," ungkap studi tersebut.

Sistem Akademik yang Mendorong Riset Aman

Kritik terhadap sains modern: tekanan publikasi, perebutan pendanaan, dan kompetisi karier membuat ilmuwan lebih memilih proyek dengan peluang berhasil tinggi dibanding ide berisiko. Padahal, banyak penemuan besar dalam sejarah justru lahir dari eksperimen yang awalnya dianggap melawan arus utama.

Mengapa Ini Penting?

Jika tren ini berlanjut, dunia berisiko kehilangan lompatan sains besar yang mengubah peradaban—dari vaksin mRNA hingga komputasi kuantum. Negara dengan populasi ilmuwan muda seperti Indonesia punya peluang emas untuk menjadi pusat inovasi global.

Yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak dana riset, tapi keberanian mendanai proyek yang belum tentu berhasil. Sejarah menunjukkan penemuan terbesar justru lahir dari ide yang awalnya dianggap aneh atau tidak masuk akal.