Banyak orang menganggap rumah sebagai aset paling berharga. Tapi masalah muncul saat nilai properti melonjak sementara pasar sedang lesu — rumah susah dijual, tapi pemiliknya butuh dana.

Menurut Chris Moutzikis, Co-Founder & CEO Money at 60, fenomena ini terjadi di Australia. Data Australian Bureau of Statistics (ABS) per 7 Juli 2026 menunjukkan total kekayaan rumah tangga naik 224,9 miliar dolar AS dalam tiga bulan pertama 2026, mencapai sekitar 19,2 triliun dolar. Sebagian besar pertumbuhan ini berasal dari rumah keluarga.

Ketika pasar properti melambat, menjual rumah dengan harga wajar jadi sulit. Pemilik cuma punya dua pilihan: jual dengan diskon atau menunggu pasar pulih.

Opsi 1: Pinjaman dengan Bunga Rendah

Bagi yang butuh tambahan dana pensiun dalam jumlah kecil, skema Home Equity Access Scheme dari pemerintah Australia menawarkan pinjaman dengan bunga 3,95%. Skema ini dirancang untuk top-up pendapatan pensiun tanpa harus menjual rumah.

Di Indonesia, konsep serupa ada dalam program KPR multiguna atau reverse mortgage yang mulai dikembangkan beberapa bank. Prinsipnya: gunakan nilai properti sebagai jaminan tanpa melepas kepemilikan.

Opsi 2: Home Equity Release untuk Kebutuhan Besar

Untuk kebutuhan lebih besar — renovasi rumah, biaya kesehatan, atau kendaraan — home equity release memungkinkan akses sebagian besar nilai properti dalam bentuk dana tunai.

Menurut Moutzikis, keputusan antara dua opsi tergantung kebutuhan spesifik. Kalau butuh tambahan rutin, skema bunga rendah lebih cocok. Kalau butuh dana sekaligus, equity release lebih tepat.

Pelajaran dari Krisis 2008

Inggris saat krisis perumahan 2008-2009 jadi contoh: harga jatuh, pembeli langka, pemilik cuma punya opsi jual murah atau bertahan.

Kuncinya, kata Moutzikis, adalah memiliki cash buffer — dana darurat setara 6-12 bulan pengeluaran. Prinsip yang sama direkomendasikan perencana keuangan di Indonesia.

Kenapa Ini Penting

Di Indonesia, properti masih jadi instrumen investasi utama. Tapi banyak pemilik rumah pensiunan yang "kaya di atas kertas" tapi kesulitan dana tunai. Memahami opsi akses equity tanpa jual properti bisa jadi solusi, terutama saat pasar properti sedang lesu.