- Homo floresiensis dari Flores ternyata pemakan bangkai (scavenger), bukan pemburu seperti asumsi sebelumnya
- Studi menganalisis 54 sayatan pada tulang Stegodon dan menemukan pola akses sekunder setelah komodo
- E. Grace Veatch dari Universitas Tubingen pimpin penelitian yang terbit 5 Juli 2026
Selama ini, Homo floresiensis yang dijuluki "manusia hobbit" dari Pulau Flores dianggap sebagai pemburu yang cukup canggih. Tapi penelitian terbaru yang dirilis 5 Juli 2026 membalikkan asumsi itu: mereka ternyata pemakan bangkai.
Temuan Utama
Peneliti internasional menemukan bahwa Homo floresiensis yang hidup sekitar 50 ribu tahun silam adalah pemakan bangkai alias scavenger. Mereka tidak berburu hewan besar, melainkan menyantap sisa bangkai gajah kerdil Stegodon florensis insularis setelah komodo mengambil bagian daging terbaiknya.
Metode Penelitian
Tim peneliti membandingkan bekas luka pada fosil dengan dua pendekatan. Pertama, mereka memberi bangkai kambing pada komodo penangkaran untuk mendokumentasikan pola gigitan. Kedua, mereka menganalisis fosil tulang Stegodon purba untuk membedakan bekas sayatan alat batu dengan bekas gigitan komodo.
Hasilnya: ditemukan 54 titik sayatan pada tulang Stegodon dan hampir dua kali lipat bekas gigitan komodo. Pola gigitan komodo terkonsentrasi di area daging pilihan. Sementara bekas sayatan manusia hobbit justru dominan di area tulang yang tidak banyak dagingnya. Ini berarti Homo floresiensis mengakses bangkai setelah komodo, sebagai konsumen sekunder.
"Studi kami menyimpulkan H. floresiensis berevolusi dari populasi hominin yang tidak membutuhkan strategi diet (berburu dan memasak) semacam itu, menyerupai bentuk Homo purba," kata E. Grace Veatch, paleoantropolog dari Universitas Tubingen, Jerman.
Profil Singkat Homo Floresiensis
Ditemukan pertama kali pada 2003 di Gua Liang Bua, Flores, Nusa Tenggara Timur, Homo floresiensis memiliki tinggi rata-rata sekitar 106 cm. Ciri fisiknya meliputi otak kecil, gigi besar, dan kaki lebar. Spesies ini menghilang sekitar 50 ribu tahun yang silam, bertepatan dengan penyebaran Homo sapiens di Asia Tenggara.
Kenapa Temuan Ini Penting?
Temuan ini mempertanyakan asumsi tentang kecerdasan dan kompleksitas perilaku manusia hobbit. Bukti tidak adanya pembakaran pada tulang Stegodon mengindikasikan mereka makan daging mentah. Dugaan "tulang hangus" dari penelitian sebelumnya ternyata hanya noda alami.
Hal ini menandakan bahwa nenek moyang Homo floresiensis mungkin berpisah dari genus Homo sebelum manusia menguasai api dan teknik berburu. Posisi mereka dalam silsilah genus Homo masih menjadi perdebatan karena terbatasnya informasi tentang perilaku hominin purba di Asia Tenggara.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa itu Homo floresiensis?
Homo floresiensis adalah spesies manusia purba berukuran kecil yang ditemukan di Flores, Indonesia. Dijuluki "manusia hobbit" karena tinggi rata-ratanya hanya sekitar 106 cm.
Apa yang berubah dari pemahaman sebelumnya?
Sebelumnya, para ilmuwan mengira Homo floresiensis adalah pemburu yang kompleks. Studi ini membuktikan mereka justru pemakan bangkai yang bergantung pada sisa mangsa komodo.
Mengapa temuan ini penting untuk arkeologi Indonesia?
Temuan ini mengubah pemahaman tentang evolusi manusia di Asia Tenggara dan menunjukkan bahwa manusia purba di Indonesia memiliki gaya hidup yang lebih sederhana dari perkiraan sebelumnya.
