Selama ini, masa remaja identik dengan usia belasan tahun. Tapi penelitian terbaru dari Universitas Cambridge mengubah anggapan itu secara drastis.

Studi terhadap ~4.000 orang menggunakan pemindaian MRI pada 8 Desember 2025 mengungkap bahwa masa remaja sebenarnya berlangsung dari usia 9 hingga 32 tahun. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Nature Communications dan menjadi salah satu riset terbesar tentang peta perkembangan otak manusia.

"Otak mengalami restrukturisasi sepanjang rentang hidup. Koneksi selalu menguat dan melemah, dan polanya tidak konstan — ada fluktuasi dan fase restrukturisasi otak," kata Alexa Mousley, penulis utama penelitian dari Universitas Cambridge.

Lima Fase Perkembangan Otak

Peneliti mengidentifikasi lima fase perkembangan otak dengan titik balik di usia 9, 32, 66, dan 83 tahun:

1. Anak-anak (Lahir — 9 tahun)

Otak membesar dengan cepat, menipiskan sinapsis berlebih. Fase ini ditandai dengan koneksi yang kurang efisien.

2. Remaja (9 — 32 tahun)

Ini fase paling menarik. Perubahan tiba-tiba terjadi dan efisiensi koneksi otak mencapai puncaknya. Inilah satu-satunya fase dalam hidup manusia ketika jaringan neuron bekerja lebih efisien. Namun, fase ini juga membawa risiko gangguan kesehatan mental tertinggi.

"Sangat menarik bahwa otak tetap berada dalam fase yang sama antara usia sembilan dan 32 tahun," ujar Mousley.

3. Dewasa (32 — 66 tahun)

Stabilitas selama tiga dekade, tapi efisiensi otak mulai berbalik arah — menurun perlahan.

4. Penuaan Awal (66 — 83 tahun)

Bukan penurunan mendadak, melainkan pergeseran pola koneksi. Risiko demensia dan tekanan darah tinggi mulai muncul.

5. Penuaan Akhir (≥ 83 tahun)

Perubahan serupa fase sebelumnya, tapi lebih nyata.

Implikasi Penemuan Ini

Prof. Tara Spires-Jones dari Universitas Edinburgh yang tidak terlibat dalam studi menyebut riset ini "sangat menarik" karena menyoroti seberapa besar otak berubah sepanjang hidup.

Sementara Duncan Astle, profesor neuroinformatika dari Cambridge, menekankan implikasi klinisnya: "Banyak kondisi perkembangan saraf, kesehatan mental, dan neurologis terkait dengan cara otak terhubung."

Ini berarti pemahaman soal batas usia remaja yang selama ini dipatok 19 tahun perlu direvisi. Kebijakan pendidikan, layanan kesehatan mental, dan pendekatan parenting pun bisa berubah mengikuti temuan ini.