Pernah merasa bersalah karena meninggalkan pekerjaan setengah jadi? Atau malu punya meja kerja berantakan? Menurut psikolog Mark Travers dari Forbes, dua kebiasaan yang sering dianggap buruk ini justru bisa jadi tanda produktivitas tinggi berdasarkan 4 studi psikologi terpisah.

Efek Zeigarnik: Kenapa Pekerjaan Setengah Jadi Lebih Mudah Dilanjutkan

Fenomena ini ditemukan psikolog asal Berlin, Bluma Zeigarnik, pada 1927. Ia memperhatikan para pelayan kafe bisa mengingat pesanan rumit yang belum dibayar dengan presisi tinggi, tapi langsung melupakannya begitu tagihan lunas.

Studi tahun 2025 di jurnal Humanities and Social Sciences Communications mengonfirmasi temuan ini dengan 400 partisipan: tugas yang belum selesai tetap "hidup" secara kognitif, membuat transisi kembali bekerja 40% lebih cepat. 3 Juli 2026

Manfaatnya? Kamu tidak perlu membuang waktu mengingat posisi terakhir. Tapi ini hanya berlaku untuk pekerjaan yang sengaja ditinggalkan sebagai penanda, bukan karena cemas atau menghindar.

Meja Berantakan dan Kreativitas

Peneliti Kathleen Vohs dari University of Minnesota menemukan dalam studi tahun 2013 di Psychological Science bahwa orang di ruangan berantakan menghasilkan ide 20% lebih orisinal. Sebaliknya, lingkungan rapi mendorong perilaku lebih hati-hati dan patuh aturan.

Namun, studi tahun 2019 di Frontiers in Psychology dengan 1.200 partisipan gagal mereplikasi temuan ini, sehingga para ilmuwan menyebut efeknya "sugestif, bukan final."

Toleransi terhadap Ambiguitas Jadi Kunci

Menurut psikolog Arie Kruglanski dalam review tahun 2015 di Advances in Experimental Social Psychology, kedua kebiasaan ini punya akar yang sama: toleransi tinggi terhadap ambiguitas yang belum terselesaikan.

Orang dengan "need for closure" tinggi memang terlihat produktif jangka pendek, tapi mereka cenderung puas dengan jawaban pertama yang tersedia. Sebaliknya, toleransi terhadap ketidakrapian -- di meja maupun di layar komputer -- membuka ruang 2x lebih luas untuk alternatif ide yang lebih baik.

Kesimpulan

Bukan berarti kekacauan total adalah strategi. Kuncinya: curigai dorongan untuk "membereskan terlalu cepat" sebelum kekacauan selesai menjalankan fungsi kognitifnya. Gunakan kerapian untuk pekerjaan presisi seperti rekonsiliasi data, dan biarkan sedikit kekacauan untuk brainstorming ide kreatif.