1 studi dari 2 komisi nasional Australia mengungkap kontradiksi yang jarang disadari: pekerja berusia 55+ adalah yang paling setia dan paling nyaman menjadi diri sendiri di tempat kerja, tapi justru yang paling jarang mendapat promosi dan mentoring.

Riset yang dirilis 30 Juni 2026 oleh Diversity Council Australia dan Australian Human Rights Commission ini fokus pada pengalaman kerja pasca-rekrutmen — area yang jarang diteliti dibanding diskriminasi usia saat melamar kerja.

Pola Diskriminasi yang Halus

Menurut Catherine Hunter, CEO Diversity Council Australia, "Terlalu sering, asumsi tentang seseorang yang terlalu muda, terlalu tua, belum siap, atau sudah lewat masa jayanya memengaruhi akses pada kesempatan, pengakuan, dan dukungan."

Pola diskriminasi berbeda antar kelompok:

  • Pekerja muda (18-29) melaporkan pelecehan tertinggi.
  • Pekerja senior (55+) dipinggirkan secara diam-diam — tidak mendapat akses mentoring dan pengembangan.

Paradoksnya, pekerja senior paling sering menjawab 'bisa menjadi diri sendiri' di kantor, tapi akses pengembangan profesionalnya paling rendah.

Perempuan Tua: Yang Paling Terlupakan

Perempuan di atas 55 tahun menjadi kelompok paling terdampak. Mereka melaporkan tingkat pengakuan dan dukungan karier terendah — kombinasi diskriminasi gender dan usia.

Robert Fitzgerald, Komisioner Diskriminasi Usia AHRC, mengatakan ageism sudah sangat dinormalisasi. "Ageisme, baik terhadap pekerja muda maupun tua, sudah begitu mengakar sehingga banyak yang menerimanya sebagai hal yang wajar," ujarnya.

Rekomendasi untuk Perusahaan

Laporan mendorong perusahaan untuk memperbaiki akses pelatihan untuk semua usia, memperluas opsi kerja fleksibel, menantang stereotip usia, dan memperkuat proses pengaduan diskriminasi.

Kenapa Ini Penting?

Di Australia, banyak pekerja terus bekerja hingga 60+ tahun. Di tengah kekurangan tenaga kerja, mengabaikan potensi pekerja senior bukan hanya tidak adil — tapi juga merugikan produktivitas organisasi. Dampaknya adalah hilangnya pengalaman dan pengetahuan institusional yang tidak bisa digantikan oleh pekerja baru.

Mantan Komisioner Kay Patterson memperingatkan: "Budaya yang kita terima sekarang akan menjadi budaya yang kita warisi." Hal ini menunjukkan bahwa ageism bukan masalah individu, tapi sistem yang perlu diubah dari tingkat organisasi.

Kesimpulan

Diskriminasi usia halus di tempat kerja membuat pekerja 55+ paling setia tapi paling jarang mendapatkan akses pengembangan karier. Tanpa intervensi sistemik, ageism akan terus dinormalisasi dan merugikan baik pekerja maupun produktivitas perusahaan.