Tahukah kamu kalau susu formula bayi bisa jadi sumber penyakit langka yang mematikan? Menurut laporan detikHealth dan data FDA, penyakit botulisme menyerang sistem saraf dan bisa melumpuhkan otot hingga gagal napas. FDA mengonfirmasi 48 kasus botulisme pada bayi di 17 negara bagian AS yang dikaitkan dengan susu formula merek ByHeart dan Nara Organics 28 Juni 2026.

Apa Itu Botulisme?

Botulisme adalah penyakit langka akibat racun bakteri Clostridium botulinum. Racun ini menyerang sistem saraf, melumpuhkan otot, dan bisa berujung gagal napas. Pada bayi, gejalanya sering tidak khas sehingga sulit terdeteksi dini. Wabah ini berlangsung dari akhir 2025 hingga awal 2026, resmi berakhir 26 Februari 2026.

Temuan Investigasi FDA

FDA menginspeksi fasilitas produksi ByHeart dan pemasoknya, Dairy Farmers of America. Menurut peneliti di badan kesehatan AS, Clostridium botulinum ditemukan pada satu bahan baku susu bubuk. Yang mengkhawatirkan: Whole Genome Sequencing (WGS) membuktikan bakteri dari sampel susu organik identik dengan bakteri dari sampel klinis bayi yang sakit.

Inspeksi FDA tahun 2023 sebenarnya sudah menemukan pelanggaran keamanan pangan di fasilitas ByHeart, yang kini sudah ditutup. Namun FDA belum menemukan bukti pelanggaran tersebut berkontribusi langsung terhadap wabah.

Hal Ini Menunjukkan

Kasus ini membuktikan bahwa kontaminasi bakteri langka seperti Clostridium botulinum tetap bisa terjadi bahkan di negara dengan sistem keamanan pangan ketat sekalipun. Dampaknya: industri susu formula bayi perlu standar pengujian lebih tinggi, terutama untuk bakteri pembentuk spora yang tahan proses pengolahan.

Langkah Penanganan

ByHeart menyusun rencana aksi: metode pengujian baru dengan sensitivitas lebih tinggi, pengujian seluruh bahan baku dan setiap batch produk akhir, audit pemasok diperluas, serta sistem pelacakan batch berbasis kode QR. FDA juga meningkatkan sampling pengawasan dan mendorong penilaian risiko lebih ketat di tingkat internasional melalui JEMRA.

Bagi orang tua: konsultasikan dengan dokter jika bayi menunjukkan gejala lemas, sulit menyusu, sembelit, atau tangisan lemah. Botulisme bisa diobati jika tertangkap dini.