- 40-50% pasien kanker kolorektal awalnya salah diagnosis sebagai maag biasa
- Lebih dari 70% kasus baru terdeteksi saat sudah stadium 3 atau 4
- Usia penderita bergeser dari 55-65 tahun ke 40-an bahkan lebih muda
Nyeri Ulu Hati yang Tak Kunjung Sembuh
Banyak orang minum obat maag begitu perut terasa begah atau nyeri ulu hati setelah makan. Solusi instan dari apotek memang bikin lega sejenak, tapi para dokter memperingatkan: jangan anggap remeh gejala ini.
Menurut Dr Nurhashim Haron, konsultan bedah umum dan kolorektal di RS Spesialis Tawakkal Kuala Lumpur, 40-50% pasien kanker kolorektal yang dirujuk kepadanya awalnya mengira hanya menderita maag atau gastritis biasa [26 Juni 2026](https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8548700/sering-dikira-maag-biasa-gejala-ini-bisa-jadi-pertanda-kanker-usus).
“Pasien baru datang untuk pemeriksaan lebih lanjut setelah gejalanya menetap. Akibatnya, ketika akhirnya didiagnosis, lebih dari 70% sudah berada pada stadium tiga atau empat,” jelasnya.
Usia Penderita Semakin Muda
Data dari Registri Kanker Nasional Malaysia periode 2017-2021 menunjukkan pergeseran demografis. Jika sebelumnya pasien kanker usus besar mayoritas berusia 55-65 tahun, kini kasus mulai banyak ditemukan pada usia 40-an.
Dr Nurhashim mencontohkan seorang pria usia 40-an yang awalnya mengira hanya perut kembung. Pemeriksaan endoskopi hanya menunjukkan peradangan lambung. Namun kolonoskopi menemukan tumor usus besar stadium lanjut yang sudah menyebar. Pasien harus menjalani operasi pengangkatan usus dan lambung serta kemoterapi.
“Sekarang, kami melihat kasus pada usia 40-an, bahkan lebih muda,” ungkapnya.
Gejala Lain yang Sering Disangka Maag
Dr Thamarai Velan, konsultan bedah umum dan hepatobilier di Bukit Tinggi Medical Centre, Klang, mengungkapkan penyakit batu empedu juga sering disangka maag. Menurutnya, lebih dari 50% kasus gangguan pencernaan yang dikira gastritis ternyata disebabkan kondisi lain.
Bedanya, nyeri batu empedu lebih tajam di sisi kanan perut, menjalar ke punggung, disertai mual, muntah, atau mata menguning.
Waspadai Tanda Bahaya pada BAB
Dr Nurhashim mengingatkan untuk tidak mengabaikan perubahan kebiasaan BAB: perubahan frekuensi, feses lebih tipis, darah atau lendir, diare berkepanjangan, sembelit kronis, dan perasaan BAB tidak tuntas.
“Banyak pasien menganggap gejala ini karena gastritis, stres, atau diet dan menunggu sampai memburuk,” sesalnya.
Jika terdeteksi dini, kanker kolorektal bisa ditangani hanya dengan operasi tanpa kemoterapi. Jangan tunda pemeriksaan jika gejala perut menetap lebih dari 2 minggu meski sudah minum obat maag.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa perbedaan gejala maag dengan kanker usus besar?
Maag ditandai nyeri ulu hati dan perut kembung yang mereda dengan obat. Kanker usus punya gejala tambahan: perubahan BAB, feses lebih tipis, darah/lendir di feses, BAB tidak tuntas. Jika gejala menetap lebih dari 2 minggu, segera periksa ke dokter.
Seberapa sering kanker usus salah didiagnosis sebagai maag?
Menurut Dr Nurhashim Haron, 40-50% pasien kanker kolorektal awalnya mengira hanya menderita maag. Lebih dari 70% baru terdeteksi saat stadium 3 atau 4. Usia penderita juga bergeser lebih muda, dari 55-65 tahun ke 40-an.
Apa yang harus dilakukan jika gejala perut tak kunjung sembuh?
Jangan langsung minum obat maag terus-menerus. Jika gejala menetap lebih dari 2 minggu, konsultasi ke dokter untuk pemeriksaan endoskopi atau kolonoskopi. Deteksi dini membuat penanganan jauh lebih mudah tanpa kemoterapi.
