Kenapa Otak Sengaja Merusak DNA-nya? Studi di Nature Beri Jawaban

Selama ini kerusakan DNA selalu dianggap sebagai hal yang berbahaya — penyebab kanker, penuaan, dan penyakit neurodegeneratif. Tapi 1 studi terbaru di jurnal Nature dari tim peneliti Kyoto University justru menemukan fakta sebaliknya: otak sengaja 'merusak' DNA-nya sendiri untuk bisa tumbuh.

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Peneliti yang dipimpin Mineko Kengaku dari Kyoto University menemukan bahwa neuron baru (sel saraf) di otak yang sedang berkembang secara rutin mengalami DNA double-strand break — kerusakan DNA untai ganda yang selama ini dianggap sebagai jenis kerusakan paling berbahaya.

Penyebabnya mekanis: saat neuron baru 'merayap' melalui jaringan otak yang padat dan sempit, tekanan fisik menyebabkan DNA mereka patah. Namun alih-alih menjadi bencana, sel-sel ini justru memperbaiki kerusakan tersebut dalam kurang dari 24 jam tanpa meninggalkan mutasi.

"Entah bagaimana, neuron bisa memperbaiki kerusakan dengan sangat cepat tanpa tanda mutasi atau efek buruk," kata Kengaku, seperti dikutip Science News 17 Juni 2026.

Kenapa Ini Penting?

Jan Lammerding dari Cornell University menyebut temuan ini "sangat mengesankan" karena menunjukkan kerusakan DNA yang tidak diperbaiki dengan benar bisa berdampak jangka panjang pada fungsi otak.

Peneliti menguji pada tikus dengan menghilangkan protein perbaikan DNA bernama ligase IV. Hasilnya: kerusakan DNA menumpuk di area otak yang mengontrol gerakan, dan tikus-tikus ini mengalami kesulitan motorik di kemudian hari.

Soma Sengupta dari Tufts Medical Center menyebut studi ini sebagai "kemajuan konseptual besar" karena — tidak seperti kerusakan DNA akibat kanker atau radiasi — kerusakan ini tidak memicu kematian sel massal dan diperbaiki secara efisien.

Dampak pada Manusia

Kengaku memperkirakan efek ini lebih signifikan pada otak manusia dibanding tikus. Sebab ukuran otak manusia lebih besar dan neuron harus menempuh jarak migrasi yang lebih panjang.

Implikasinya cukup luas:

  • Kelahiran prematur menjadi periode berisiko tinggi karena otak masih aktif berkembang
  • Beberapa antibiotik untuk bayi prematur ternyata bisa menghambat perbaikan DNA
  • Gangguan pada proses ini mungkin berkaitan dengan penyakit neurodegeneratif dan gangguan spektrum autisme

Kesimpulan

Temuan ini mengubah cara ilmuwan memandang kerusakan DNA. Bukan sekadar 'kecelakaan' yang harus dicegah, kerusakan DNA ternyata adalah strategi evolusi otak mamalia untuk tumbuh sehat. "Kami harus berhati-hati pada tahap perkembangan otak," pesan Kengaku.